Undip – Stargold Kembangkan Karamba Ramah Lingkungan di Karimun

20160608KJA_stargold
Direktur PT Stargold Internusa (kiri), Ketua Kelompok Laut Permain Abadi Jimmy (tengah) dan Ketua Tim Penelitian Pusnas Undip Sapto P Putra memperlihatkan benih teripang dari Karamba Jaring Apung yang dikelola Kelompok Laut Permai Abadi. Pusnas Undip bekerja sama dengan Stargold mengembangkan KJA berbentuk bulat berbahan HDPE yang ramah lingkungan di Karimun. (antarakepri.com/Istimewa)

“Sisa-sisa palet yang tidak dimakan ikan di jaring atas akan dimanfaatkan ikan-ikan di jaring bawah. Praktik ini akan menurunkan tingkat sedimentasi materi organik dari pelet ikan, sehingga menjadi lebih ramah lingkungan”

Karimun (Antara Kepri) – Tim Penelitian Unggulan Strategis Nasional Universitas Diponegoro (Pusnas Undip) bekerja sama dengan PT Stargold Internusa mengembangkan Karamba Jaring Apung sistem IMTA yang ramah lingkungan di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

“Orientasi kami tidak hanya pengembangan budidaya perikanan produktif dan berkelanjutan, tetapi juga menekankan praktek budidaya yang ramah lingkungan menggunakan Karamba Jaring Apung (KJA) sistem IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture),” kata Ketua Tim Pusnas Undip Dr Sapto P Putro MSi di Tanjung Balai Karimun, Minggu.

Pengembangan sekaligus penelitian KJA sistem IMTA di Karimun, kata Sapto, dimulai dengan menggandeng Kelompok Laut Permai Abadi, Desa Pangke, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun.

Sementara, PT Stargold Internusa, Bandung, Jawa Barat merupakan mitra kerja sama yang telah mengembangkan satu desain karamba SDFRC-IMTA untuk diterapkan atau diujicoba melalui Kelompok Laut Permai Abadi.

Kelompok tersebut mendapat bantuan dua model karamba dari Stargold, antara lain karamba empat persegi dan berbentuk bulat berbahan HDPE dengan membudidayakan spesies bawal bintang, kerapu macan, kerapu cantang, dan rumput laut.

Keramba HDPE, lanjutnya, mempunyai keunggulan kuat, tahan gelombang dan arus. Dari segi teknis budidaya, keramba bulat ini juga mempunyai nilai tambah karena tidak mempunyai sudut seperti kotak, sehingga sangat cocok untuk budidaya ikan-ikan perenang cepat atau pelagis.

“Karamba tersebut dilengkapi sepasang ‘net roller’ dengan ‘steer’ yang dihubungkan tali PE dengan jaring bertingkat. Sisa-sisa palet yang tidak dimakan ikan di jaring atas akan dimanfaatkan ikan-ikan di jaring bawah. Praktik ini akan menurunkan tingkat sedimentasi materi organik dari pelet ikan, sehingga menjadi lebih ramah lingkungan,” tuturnya.

Sebagai daerah kepulauan, Karimun ia menilai sangat cocok dijadikan pusat pengembangan KJA yang menerapkan teknologi HDPE dengan sistem IMTA, yaitu praktek budidaya dengan lebih dari 1 spesies biota atau polikultur yang memiliki hubungan mutualistik secara ekologis sebagai satu rantai makanan pada area/sistem yang sama dalam waktu yang bersamaan.

“Kami tentu berharap dukungan dan kerja sama dari pihak-pihak terkait, baik dari pemerintah daerah, kelompok budidaya dan pihak-pihaknya lainnya,” katanya.

Sapto mengatakan, Karimun merupakan lokasi kedua setelah Kepulauan Seribu yang dipilih sebagai pusat pengembangan dan penelitian budidaya perikanan produktif menggunakan KJA sitem IMTA.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Stargold Internusa Imam Kadarisman mengatakan siap mendorong pengembangan KJA sistem IMTA berteknologi HDPE di Karimun.

“Karamba yang kami berikan kepada Kelompok Laut Permai Abadi merupakan bagian dari uji coba dan penelitian bekerja sama dengan Pusnas Undip. Kami optimistis bisa berhasil, kami akan memberikan kemudahan, KJA sistem IMTA yang kami kembangkan bisa diperoleh kelompok nelayan dengan cara dicicil,” tuturnya.

Imam Kadarisman mengharapkan, pengembangan KJA sistem IMTA dapat mendorong pengembangan bidang kemaritiman, khususnya budidaya perikanan.

“Dan tentunya kami berharap dapat membuka peluang usaha di Karimun, sehingga tidak hanya menjadi pekerja tetapi menjadi pengusaha. Karamba HDPE yang kami kembangkan bisa tahan sampai 50 tahun, dan memiliki teknologi yang cocok dikembangkan dengan karakteristik perairan seperti Karimun,” tuturnya.

Ketua Kelompok Laut Permai Abadi Jimmy mengatakan, pihaknya mendapat bantuan dua jenis karamba dari Stargold, yaitu berbentuk empat persegi dan bulat. Dua jenis karamba tersebut telah dibangun di perairan Pulau Tambelas yang berjarak sekitar 1,5 mil dari bibir pantai Desa Pangke, Kecamatan Meral.

“Dua jenis karamba sudah kami isi dengan benih beberapa jenis ikan, antara lain 2.200 ekor kakap putih, 750 ekor kerapu cantang, 2.000 ekor bawal bintang, teripang dan 60 kilogram rumput laut.

Dia mengapresiasi PT Stargold karena kelompok yang dia pimpin sama sekali tidak mengeluarkan uang untuk mendapatkan dua jenis karamba tersebut.

“Kami hanya mengeluarkan biaya secara mandiri untuk benih ikan, kami optimistis KJA ini mendatangkan hasil yang lebih maksimal,” tutur Jimmy. (Antara)

Editor: F.C Kuen

Comments are closed.