Keramba Jaring Apung Bulat Bertingkat (KJABB-IMTA) kian terbukti kekuatannya
KJA bulat bertingkat Stargold dengan sistem IMTA
Setelah sukses dengan penelitian KJA bulat bertingkat atau Stratified Double Net Cage (SDFNC) berbasis Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA) di kepulauan Seribu pada 2015. Tahun ini PT Stargold Internusa Jaya bersama tim Penelitian Unggulan Strategis Universitas Diponegoro (Pusnas-Undip), terdiri dari Sapto P. Putro, PhD (Ketua), Prof. Widowati (anggota), Dr. Fuad Muhammad (anggota), dan Drs. Suhartana, Msi (anggota) dengan kepakaran masing-masing, kembali mencoba menguji keunggulan KJA bulat Stargold pada aplikasi serupa tapi di wilayah lain.
Menurut Sapto, dipilihnya dua lokasi strategis untuk budidaya sistem IMTA tersebut karena karakterisitk lingkungan yang sangat mendukung, baik dari kualitas air maupun potensi ekologis setempat dengan perairan yang semi tertutup dikelilingi oleh pulau-pulau kecil dan debit air di kisaran 10-12 cm/detik. Ditambahkan oleh Fuad, ke depan budidaya modern ini akan sangat mendukung upaya pengembangan ekowisata, khususnya turis domestik maupun asing melihat langsung aktivitas budidaya sebagai daya tarik wisata di kawasan tersebut.
Kegiatan penelitian lanjutan ini dilakukan di Desa Pangke Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau. Penelitian ini ditandai dengan dilakukannya perjanijan kerjasama pada 4 Juni 2016 lalu antara PT Stargold, Pusnas-Undip, dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Tanjung Balai Karimun. Perjanjian kerjasama ini dilakukan di depan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Laut Permai Abadi, Desa Pangke, dalam rangka mengembangkan budidaya perikanan laut ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Kepala BLH Tanjung Balai Karimun, Amjon, menyambut gembira kerjasama ini. Menurutnya kerjasama ini kedepannya dapat meningkatkan kesejahteraan pembudidaya. Namun ia mengharapkan kedepannya Pokdakan yang terlibat memiliki badan hukum organisasi yang jelas, sehingga kelak tidak muncul masalah terutama terkait bagi hasil produksi ikan.
Dijelaskan Direktur PT Stargold, Imam Kadarisman, salah satu tujuan penting dari kerjasama ini adalah agar para peneliti dapat lebih sejahtera kedepannya melalui royalti yang diperoleh dari hasil penelitian ini. Pihak lain yang terlibat dalam penelitian ini diantaranya Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, Center for Marine Ecology and Biomonitoring for Sustainable Aquaculture (Ce-MEBSA) – Laboratorium Terpadu Universitas Dipoengoro, Semarang.
Kian Teruji
Aplikasi SDNC-IMTA berbentuk bulat berbahan HDPE (High Density Polyethylene) pertama kali diaplikasikan oleh Pusnas Undip pada 2015 di kawasan Sea Farming Karang Lebar Kepulauan Seribu dengan membudidayakan spesies bawal bintang, kerapu macan, kerapu cantang, serta rumput laut. Diungkapkan oleh Sapto P Putro, PhD, selaku Ketua Tim Pusnas-Undip, diperoleh hasil pertumbuhan biota budidaya menggunakan KJA ini adalah baik dan mengikuti pola pertumbuhan biota pada umumnya. Semisal laju pertumbuhan spesifik dan laju pertumbuhan relatif bawal bintang masing masing 3,39% dan 1,09%.
Sementara dalam pelaksanaan Penelitian Pusnas tahun ini di Desa Pangke, pengembangan desain SDNC-IMTA terus dilakukan. Desainnya dikombinasikan dengan KJA kombo 3×3 sebanyak 4 buah. Ikan kerapu cantang, kakap, bawal bintang, teripang, dan rumput laut dipilih sebagai komoditas budidayanya.
Tim peneliti Pusnas Undip melibatkan beberapa mitra seperti BUMN Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) yang merupakan mitra strategis dalam memanfaatkan sarana dan akses/jaringan pemasaran produk perikanan baik nasional maupun internasional. “Bahkan Perindo menjanjikan akan membeli semua produk hasil penelitian ini nantinya baik yang di Kepulauan Seribu maupun yang di Tanjung Balai karimun,” ujar Sapto. Prof. Widowati selaku anggota tim menyatakan bahwa hasil monitoring secara berkala akan sangat bermanfaat untuk menyusun suatu permodelan matematis terhadap materi organik yang muncul dan cenderung akumulatif sebagai acuan langkah antisipatif atau ‘early warning system’ agar ke depan praktek budidaya dapat terus diupayakan untuk meminimalisir resiko pengkayaan organik.
Dalam monitoring yang rencananya dilakukan minimal 2 minggu sekali untuk pertumbuhan biota budidaya , dan 3 bulan sekali untuk kualitas air dan sedimen, Tim peneliti PUSNAS Undip melibatkan mahasiswanya yakni Abdullah Aufa (mahasiswa S2 Magister Biologi FSM Undip), Deni Elizabeth (mahasiswi S1 Biologi-FSM Undip) dan Raden Faradhiva Prahmawaty (mahasiswi S1 Biologi-FSM Undip), masing-masing akan meneliti struktur komunitas makrobentos spasial dan temporal, faktor abiotik, kualitas air, serta aspek kimia perairan oleh dosen kimia Undip, Suhartana selaku anggota.
“Kami berharap hasil karya kami dapat mendukung program pemerintah dalam hal kedaulatan pangan dan turut serta membuat produk yang berwawasan lingkungan. Juga dapat bersinergi dengan para stakeholder di bidang perikanan. Kami sangat peduli terhadap kehidupan budidaya, karena ini juga budaya bangsa dan bernegara di Indonesia,” urai Imam.
Imam menambahkan, PT Stargold melakukan ini untuk merespon tantangan bangsa Indonesia di bidang maritim. Seperti yang diketahui, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah mewanti-wanti agar eksploitasi hasil laut tidak boleh merusak laut demi kelangsungan hidup umat manusia dimasa yang akan datang. Kedepan, ia berharap agar KKP lebih peduli terhadap kelangsungan usaha KJA HDPE ini, misalnya dengan membeli produk KJA. Selain itu ia mengharapkan agar tidak hanya dianggap seperti anak tiri di negeri sendiri, tetapi dapat juga dianggap sebagai aset bangsa. “Dengan adanya KJA bulat bertingkat berbasis IMTA tantangan dunia kemaritiman dapat diatasi,” ujar Imam meyakinkan.
KJA bulat bertingkat berbasis IMTA sangat memperhatikan keberlangsungan lingkungan hidup Indonesia. Dimana saat ini banyak yang rusak akibat pembangunan yang salah kaprah. Sesuai dengan arahan Kementerian Lingkungan Hidup, setiap usaha harus berbasis ramah lingkungan. PT Stargold telah membuktikannya dengan KJA Bulat HDPE ini, sehingga pemakaian kayu untuk keramba akan berkurang.
“Kami terus melakukan kerjasama dengan kelompok nelayan dalam rangka mendorong para nelayan menjadikan usaha budidaya sebagai periuk nasi. Akan tetapi kerjasama membutuhkan proses, tidak simsalabim. Semua disiplin ilmu terlibat. Harapannya desa desa nelayan akan menjadi teras rumah negara kita, apabila perekonomiannya berkembang,” jelasnya.
Imam melanjutkan, pemerintah harus bergerak cepat menjadikan usaha budidaya sebagai kegiatan strategis nasional. Apabila tidak, maka Indonesia akan tertinggal jauh oleh negara-negara yang sudah mapan di bidang perikanan. “Kedepan kami ingin menjadikan Pangke sebagai desa inovasi dan industri perikanan di Indonesia,” harap Imam.
KJA Bertingkat
Diungkapkan Sapto, praktik budidaya yang cenderung tidak ramah lingkungan menjadi salahsatu permasalahan terbesar sektor akuakultur Indonesia. Pembudidaya kadang hanya berorientasi pada kapasitas produksi semata, tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan. Area budidaya yang terbatas dengan populasi yang tinggi menjadi salah satu penyebabnya. Pengayaan organik perairan yang berasal dari pakan buatan menjadi masalah berikutnya.
Dalam mengatasi hal tersebut, lanjut Sapto, maka perlu adanya inovasi terhadap desain KJA untuk budidaya ikan yang produktif dan berkelanjutan. Aplikasi KJA bertingkat SDFNC-IMTA terintegrasi dengan teknik biomonitoring diyakini sangat selaras dengan kebutuhan saat ini. Khususnya dalam upaya meningkatkan produktivitas perikanan budidaya dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.
Menurut Sapto, desain KJA Bertingkat ini memungkinkan budidaya dilakukan pada jaring atas dan bawah secara bersamaan. “Budidaya jaring bawah disesuaikan dengan karakteristik ikan demersal aktif di dalam badan air dan cenderung agresif, sehingga sisa pelet yang tidak dimakan pada ikan budidaya di jaring atas akan dimanfaatkan oleh ikan pada jaring di bawahnya,” ujar finalis dosen berprestasi tingkat nasional 2015 ini.
Sistem IMTA merupakan praktik budidaya dengan lebih dari 1 spesies biota yang memiliki hubungan mutualistik secara ekologis sebagai satu rantai makanan pada area/sistem yang sama dalam waktu yang bersamaan. “Jadi dengan sistem IMTA ini, memungkinkan pembudidaya mendapatkan beberapa produk budidaya pada area yang sama tanpa menambah luasan area budidaya,” tambah Sapto.
Keunggulan KJA Stargold
Melalui aplikasi pengujian di Kepulauan Seribu dan Tanjung Balai Karumun tersebut KJA bulat Stargold kian teruji kekuatan, tahan lama, serta ramah lingkungan. Menurut Imam, KJA Bulat SDFNC-IMTA ini merupakan produk teranyar dari Stargold buah karya dari tangan-tangan terampil anak bangsa. KJA bulat ini berbahan HDPE dengan standar 100 mpa.
Menurut Imam, bahan baku Polyethylene (PE) dipilih karena fleksibel, sehingga tahan terhadap arus dan gelombang besar sekalipun. Pipa ini dirancang sangat kuat, tidak mudah patah atau pecah dan bersifat adaptive memorial flexible. “Yang terpenting, pipa HDPE KJA ini sudah memperoleh sertifikat dari Kementerian Perindustrian,” ujar Imam menjelaskan.
Ditambahkan oleh Suhartana, HDPE adalah bahan yang terbuat dari reaksi polimerisasi ethyelene yang bahan awalnya adalah unsur carbon (C) dan hydrogen (H). Ikatan yang terjadi adalah ikatan kovalen, terbentuk karena elektron yang digunakan secara bersama- sama. Karakter ikatan kovalen adalah memiliki karakter lentur, sangat kuat, bahkan ada beberapa zat tertentu yang memiliki ikatan ini adalah keras dan bahkan sangat kuat (intan sebagai contohnya). Karena ikatannya kovalen, maka dengan sendirinya bahan ini tahan terhadap solvasi air, tahan terhadap korosi air laut dan memiliki kekuatan ikat yang prima. Tidak mengherankan jika KJA yang diproduksinya sangat awet, dan tahan korosi terhadap air laut.
Imam menambahkan, pipa HDPE tidak beracun. Bahkan material plastik PE sudah biasa digunakan sebagai plastik kemasan makanan dan minuman. Selain itu, pipa HDPE merupakan material yang ramah lingkungan karena bisa didaur ulang. PT Stargold menjamin kekuatan KJA ini di atas 50 tahun. Keunggulan lain dari KJA Bulat ini adalah terletak di penyambung butt fusion-nya. Dimana sambungannya lebih kuat dibandingkan pipanya sendiri, karena terdapat penebalan multiplus. Trobos Aqua / adv